Jumat, Agustus 21, 2009
Rabu, Agustus 12, 2009
3 HARI 3 MALAM BERBANDING 2 JAM
Disalin ulang oleh : Mr. Arrang
Sebuah pesawat terbang kecil berputar-putar mencari landasan di
tengah-tengah rimba belantara Kalimantan. Sesaat kemudian, pesawat
menukik dan mendarat dengan hati-hati. Sang pilot turun, disusul
satu-satunya penumpang -- seorang hamba Allah yang diundang ke
daerah itu untuk menyampaikan Kabar Baik dari surga. Orang ini agak
terkesiap menatap rombongan laki-laki yang rupanya telah berkumpul
menyambut kedatangannya. Ketua rombongan maju memperkenalkan diri,
dan setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai
berbincang-bincang.
"Berapa jumlah penduduk desa Bapak?" tanyanya berbasa-basi kepada
ketua rombongan.
"Ini semua kepala keluarganya Pak Pendeta," jawab lelaki setengah
usia itu sambil menunjuk pada rombongan penyambut.
Termangu-mangu, pak pendeta itu mendengarkan keterangan ini.
Diam-diam dihitungnya orang-orang yang mengelilinginya. Hanya tiga
puluh kepala! Tanpa disadarinya, terlintas dalam ingatannya gedung
pertemuan yang mahaluas di Ottawa, Kanada, yang memuat lima ribu
orang, yang menjadi penuh sesak tatkala mereka berdatangan untuk
mendengarkan firman yang disampaikannya. Itu baru beberapa minggu
yang lalu.
"Mari, Pak," kata ketua rombongan dengan ramah sambil membuat
gerakan tangan, mempersilakannya berjalan. "Baik," katanya.
Tebersit dalam hatinya, sebuah harapan, semoga jarak yang kini
harus ditempuhnya dengan berjalan kaki, tidaklah terlalu jauh.
Ternyata harapannya buyar. Mereka meninggalkan landasan pesawat itu,
dan memasuki hutan rimba. Tak terpikirkan betapa mengerikan rimba
itu! Hujan yang turun telah menciptakan kubangan-kubangan lumpur
yang bercampur daun-daun membusuk. Bau yang menyebar dari
kubangan-kubangan tersebut sungguh memuakkan! Di sana-sini tampak
gundukan kotoran hewan, entah binatang liar ataukah hewan peliharaan
penduduk. Di kiri kanan jalan setapak, tirai tebal daun-daun serta
sulur-suluran membuat orang enggan menyimpang sedikit pun dari jalan
setapak itu.
Jalan ternyata berliku-liku, turun naik bukit pula! Udara panas luar
biasa, sekalipun sinar matahari hampir tak tampak dalam rimba yang
pekat itu. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah mulai memprotes
siksaan yang tak terduga-duga itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut
nyeri. Kaki bagaikan dibebani berkilo-kilo. Rongga dada serasa
hendak meledak, menahan napas yang memburu sehingga menimbulkan
desah yang ramai pula. Matanya mulai berkunang-kunang. Langkahnya
pun sudah terhuyung-huyung dengan kepala merunduk berat. Ia
benar-benar membutuhkan istirahat. Tetapi baru saja ia hendak minta
kepada pengantarnya agar mereka berhenti dulu, telinganya menangkap
suara orang ramai.
Ia mengangkat kepala. Mereka berada di puncak sebuah bukit. Di bawah
terhampar pemandangan yang membuatnya terharu. Beratus-ratus ...
tidak, beribu-ribu orang laki perempuan tampak hiruk-pikuk membuat
barisan panjang menuju sebuah "rumah adat".
"Mereka ... ?" tanyanya heran pada pengantarnya.
"Ya," jawab yang ditanya, "mereka tahu Bapak akan datang. Mereka
datang dari kampung-kampung yang tersebar di wilayah yang luas. Ada
di antara mereka yang berjalan 3 hari 3 malam untuk berbakti
bersama-sama."
3 hari 3 malam! Ia melihat, jam tangannya menunjukkan bahwa mereka
sendiri berjalan tak lebih dari 2 jam.
Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia membayangkan perasaan yang
mencekam diri Tuhan Yesus tatkala dilihatnya "orang banyak datang
berbondong-bondong". Kehausan jiwa yang mencari kebenaran pada masa
itu, sekarang pun masih begitu menonjol. Dan ini lebih dirasakannya
lagi ketika kebaktian dimulainya. Suara-suara yang menaikkan
puji-pujian dalam aneka nada memang jauh daripada indah, namun mampu
menggugah hatinya kepada suatu kesadaran yang lebih mendalam, bahwa
Kasih Tuhan ada di mana-mana. Jiwa-jiwa di kota gemerlapan atau di
rimba belantara, sama di mata Tuhan. Tetapi kasih kepada Tuhan,
kiranya tiada yang melebihi kasih yang ada di dalam hati manusia
penghuni rimba ini. Murni dan teguh, demikianlah iman yang membuat
mereka itu menjadi "indah".
Senin, Juli 13, 2009
REVELATION SONG
Worthy is the lamb
Who was slain
Holy, Holy, is He
Sing a new song to Him
Who sit’s on heaven’s mercy seat
Holy, Holy, Holy is
The Lord god almighty
Who was and is to come
With all creation I sing praise
To the King of King
You are my everything and
I will adore You
Clothed in rainbows of living color
Flashes of lightning
Ralls of thunder
Blessing and horor
Strenght and glory and power be
To You, the only wise King
Holy,Holy, Holy is
The lord God Almighty
What was and is and is to come
With all creation. I sing praise
To the King of king’s
You are my everything and
I Will adore You, I will adore You
Filled with worder
Awesruck wonder
At the mention of Your name
Jesus, Your name is power
Breath and living water
Suck a marvelous mystery
Selasa, Juni 09, 2009
HARAPAN DAN KENYATAAN
Alkisah ada dua malaikat yang
sedang berkelana. Mereka singgah di rumah sebuah keluarga yang kaya
raya dan menginap disitu. Keluarga itu jahat, mereka tidak mau
memberikan kamar mansionnya yang megah nan nyaman bagi
malaikat-malaikat tersebut, sebaliknya mereka disuruh tidur di lantai
gudang bawah tanah yang dingin.
Ketika
sedang menata kasur di lantai gudang bawah tanah yang keras, malaikat
yang lebih tua melihat ada sebuah lubang di dinding, dan lalu mengambil
semen yang ia temukan di gudang itu, lalu menambal lubangnya. Ketika
malaikat yang lebih muda bertanya mengapa ia melakukan itu, si malaikat
tua menjawab: Semua di dunia ini tidak selalu seperti kelihatannya.
Malam
berikutnya kedua malaikat itu singgah di rumah reyot milik keluarga
petani yang miskin. Namun si petani dan istrinya sangat ramah. Bukan
hanya berbagi makanan mereka yang teramat sederhana, petani dan
istrinya itu juga mengalah dengan mempersilakan kedua tamunya untuk
tidur di tempat tidur mereka yang hangat, sehingga kedua malaikat itu
dapat tidur dengan nyenyak malam itu.
Ketika
matahari mulai bersinar keesokan paginya, kedua malaikat itu bangun dan
mendapatkan sumai istri petani itu menangis tersedu-sedu. Sapi milik
mereka satu-satunya, yang selama ini menjadi sumber penghasilan
keluarga itu, mereka temukan terbaring mati di ladang pagi itu.
Melihat
kejadian memilukan itu, hati malaikat muda dipenuhi kemarahan, dan ia
bertanya kepada malaikat tua: Bagaimana bisa kamu membiarkan semua ini
terjadi? Keluarga pertama itu begitu kaya raya dan memiliki segalanya,
tetapi kamu tetap menolong mereka, si malaikat muda mulai melancarkan
tuduhannya.Keluarga kedua hanya memiliki sedikit, tetapi mereka
dengan senang hati mau berbagi semua milik mereka dengan kita, dan kamu
malahan membiarkan sapi mereka mati!
Semua
di dunia ini tidak selalu seperti kelihatannya, malaikat tua menjawab.
Ketika kita menginap di gudang bawah tanah mansion milik orang kaya
itu, aku melihat ada emas tersimpan di balik lubang di dinding itu.
Karena si pemilik mansion adalah orang yang amat serakah dan tidak mau
berbagi hartanya yang berlimpah itu, aku menutup lubang di dinding itu
agar ia tidak melihatnya.รข€
Lalu
tadi malam, ketika kita tidur di ranjang petani itu, aku melihat
malaikat kematian datang hendak mengambil nyawa si istri petani. Aku
menukarnya dengan sapi mereka. Semua di dunia ini tidak selalu seperti
kelihatannya.
Dari kisah itu, sepertinya ada
kepincangan. Memang bagi si petani, kehilangan seekor sapi jauh lebih
baik daripada kehilangan istrinya. Tapi bagi si orang kaya? Bukankah
mendapatkan emas merupakan sesuatu yang baik baginya? Nah, kisah ini
mau mengungkapkan pada kita bahwa yang baik di mata kita belum tentu
baik di mata Tuhan. Kita menganggap kesuksesan, kekayaan, jabatan,
penghargaan adalah sesuatu yang baik. Padahal bagi Tuhan ada yang jauh
lebih baik: yaitu iman kita. Jika kesuksesan, kekayaan dsb itu akan
menjauhkan kita dari Tuhan, maka itu berarti kesuksesan tsb bukanlah
yang terbaik untuk kita.
Jadi
bila saat ini anda telah berdoa sekian lama bagi sesuatu yang baik
menurut anda, tapi belum dikabulkan juga, mungkin Tuhan punya rencana
lain bagi anda. Dan yang pasti, rencana itu pasti lebih baik buat anda.
Maka, teruslah berdoa, tapi ubahlah permohonan anda menjadi: Tuhan,
berikanlah apa yang menurutMu terbaik bagiku. Lalu tunggulah dan
lihatlah apa yang terjadi
Disalin ulang : Mr. Arrang

